KATA PENGANTAR
Hello
sahabat, sebelumnya kenalin dulu nama gue dicky, dan loe bisa panggil gue dicky
boneka. Nama boneka ini berasal dari ungkapan kata bocah nekat kalimantan yang
gue singkat menjadi BONEKA.
Di dalam
postingan ini, gue akan berbagi cerita cinta seorang bocah bernama dicky. Di
dalam cerita pendek ini gue akan berbagi pengalaman dan motivasi buat
sobat-sobat yang pasrah untuk mengejar cinta sejatinnya dan jatuh ke dalam
rumah keterpurukan setelah di buang dan di lupakan dengan kekasihnya.
Okay guys,
langsung aja deh. Selamat menyimak cerita-nya dicky boneka di bawah ini dan
semoga terhibur.
#kebahagiaan yang aku cari
Karya: dicky boneka
Hello sobat,
kenalin nama gue dicky. Gue lahir pada tanggal 1 agustus 1997 dan dari dulu
sampai sekarang, gue adalah bocah gede sederhana yang terlahir utuk mencari
cinta sejati. Sebelum loe tahu kisah cinta pertama gue yang manis bercampur
asam dan asin, gue akan sedikit berbicara tentang masa kecil gue yang kurang
bahagia.
Di dunia ini,
gue di lahirkan di sebuah tempat yang di sebut dengan nama kamar tidur. Di sana
nyokap gue di bantu dengan seorang bidan beranak yang biayanya hanya sukarela
atau dalam bahasa banjarnya itu seadanya. Kehidupan gue sederhana, gue bukan
orang kaya yang punya rumah gede dan bertingkat, gue juga ga punya mobil yang
bisa melindungi gue dari hujan dan panas matahari ketika bepergian ke rumah
nenek. Namun gue bukan orang miskin yang ga bisa membeli sebuah yoyo mainan.
Hidup
sederhana itu bukan berarti gue akan sengsara, gue ga perlu membayar untuk bisa
mendapatkan sebuah kebahaigian, yang gue perlukan hanyan sahabat yang setia dan
selalu ada ketika gue sedih mau pun senang.
Masa kecil
gue indah dan menyenangkan bersama sahabat-sahabat gue, di dunia ini gue hanya
punya 5 sahabat di komplek tempat gue tinggal, walau hanya 5 orang gue masih
bisa bahagia dan senang bersama mereka, namun tak selamanya gue tersenyum dan
tertawa di karenakan sifat bokap gue yang keras dan angkuh. Hampir setiap malam
tangan gue di cubit dan di puku hanya karena kebodohan gue. Yap, gue memang
bodoh dan tolol untuk memahami sebuah pelajaran. Namun pemikiran kekanakan gue
yang belum dewasa ini membuat gue membenci bokap gue. Gue berfikir gue ga akan
menemukan perhatian dan kasih sayang lewat orang tua gue.
Suatu hari,
di saat gue naik ke kelas 3, gue pindah sekolah dari SD 5 BH ke SD 3 MBH, di
sekolah baru ini gue menemukan beberapa hal baru yang ga pernah gue temukan di
rumah, sekolah lama, dan komplek perumahan gue. Semua di mulai ketika gue
berkenalan dengan teman-teman baru gue di sekolah baru itu. Dan saat itu gue
melihat seorang wanita cantik manis dan lucu bernama amalinda.
Amalinda
adalah seorng wanita idaman semua bocah goblok di sekolah, siapa sih yang ga
tertariik dengan amalinda yang sudah berkali-kali menyumbangkan pialanya untuk
sekolah, dari cerdas cermat, lomba baca puisi sampai lomba melukis dia selalu
membawa piala untuk nama baik sekolah.
Gue menyadari
kalau gue jauh dari kata serasi dengan amalinda, namun bicara tentang cinta, ga
akan ada yang tahu jikalau cinta sudah berbicara.
Perkenalan
pertama gue dengan amalinda berawal dari sebuah pohon beringin besar yang
senantiasa melindungi siapa saya yang bernaung di bawahnya dari serangan panas
matahari. Awalnya gue ragu, namun karena rasa suka gue akhirnya gue beranikan
diri. Perkenalan pertama itu serasa menyenangkan gue bisa melihat senyuman
manisnya, kata-kata lembutnya. Rasanya gue sudah di sihir oleh amalinda lewat
pesonanya.
Kehidupan gue
mulai berwarna semenjak mengenal amalinda, kini gue berteman dan terkadang
makan bareng di kantin bahkan belajar bareng di perpustakaan, gue pikir dengan
ini gue bisa mendapatkan sebuah perhatian dan kasih sayang yang gue cari dari
dulu.
Di sekolah
baru ini gue ga cuman berteman dengan wanita cantik manis seperti bidadari
dengan nama amalinda, tapi gue juga punya teman sekaligus sahabat dengan nama
petrus, petrus adalah bocah dengan IQ di atas rata-rata, dia juga anak orang
kaya, rumahnya besar bertingkat di sertai taman bermain, perpustakaan dan kolam
renang, namun anehnya orang seperti petrus tidak memiliki teman semenjak duduk
di kelas 1.
Kini gue
menjadi teman pertama petrus sekaligus sahabatnya, petrus bertindak baik
terhadap gue, kami saling bertukar pikiran dan berbagi ilmu, aneh juga sih gue
berbagi ilmu dengan orang cerdas seperti petrus.
Hari-hari gue
jalani dengan indah, di temani petrus yang baik hati, dan juga amalinda yang
perhatian terhadap gue, kini hidup gue mulai berwarna. 3 minggu gue berteman
dengan petrus ternyata kami memiliki suatu tunjuan yang sama, ada yang tahu itu
apa? Tepatnya cinta. Yap, kami mempunyai tujuan untuk memiliki cinta sejati.
Petrus pernaah cerita terhaadap gue kalau dia suka sama seorang wanita muslimah
banget di kelas sebelah dengan nama situ nur hayati.
Situasinya
sedang di perpustaakaan, dan kami berdua sedang membaca buku ilmu pengentahuan
alam, tak ada salahnya gue berteman dengan petrus, tidak hanya baik gue
semangin pandai memahami pelajar di tambahlagi ada amalinda yang selalu
memberikan gue semangat untuk menjadi pandai.
·
“dick,
akhir-akhir ini memikirkan seseorang” kata petrus sambil memegang buku.
·
“siapa
yang kau pikirkan pet?”
·
“aku
kayanya sedang jatuh cinta dick”
·
“hah?
Jatuh cinta? Yang benar saja pet?”
·
“kau
ini mengira aku ini tak pernah memahami arti cinta? Bahkan aku lebih faham
artis sebuah cinta dari pada kau dick”
·
“yaaa
aku tahu kau cerdas karena di rumah mu ada ruangan perpustakaan jadi kamu bisa
mempelajari arti cinta dengan mudah, tapi seiapa orang yang kamu maksud?”
·
“namanya
siti nur ha...”
·
“apa?
Siti nur hartati guru BP kita yang gemuk, besar, bau, dan jelek itu?” kata ku
dengan keras karena terkejut
·
“hey,
jangan keras-keras ini perpustakaan, lagi pulau kau ini gila yah, aku suka sama
siti nur hayati anak kelas 3 A”
·
“owhh,
hehe maaf ku pikir.....”
·
“ahh
sudahlah, ayo kita kembali ke kelas”
·
“okay,
okay”
Nah
begitulah, tapi jujur semenjak itu gue takut karena gue sudah menjelek-jelekan
guru BP yang terkenal kejamnya.
Malam harinya
petrus datang ke rumah gue untuk membicarakan tentang rasa sukanya terhadap
hayarti, petrus meminta gue untuk menemaninya berkenalan dengan hayati, namun
karena takut gaga gue mengajak amalinda untuk membantu petrus kenalan sama
hayati.
Esok harinya,
kami siap di posisi sambil menunggu hayati dayang, biasanya hayati akan duduk
sendirian di bawah pohon beringin besar yang ada di dalam sekolah, entah apa
yang di lakukannya, tapi yang pasti di saat itulah petrus akan masuk untuk
menunjukan pesonanya, maksut gue berkenalan dengannya.
15 menit
setelah bell istirahat berbunyi hayati pun datang dan duduk di tempat biasa dia
menyendiri. Setelah beberapa detik petrus pun melancarkan recana yang telah
kami susun bertiga malam tadi.
·
“hae,
kau sendirian aja di sini?”
·
“menurut
mu?”
·
“emmmhhh,
oya boleh kita kenalan?”
·
“untuk
apa?”
·
“untuk
menjadi teman atau sahabat, aku selalu melihat kau menyendiri tampa teman di
sini, lagi pula kau bisa berteman dengan teman-teman ku yang lain, dan pasti
akan menyenangkan”
·
“siapa?
Dicky dan amalinda?”
·
“kau
mengenal dicky? Bukankah dia......”
·
“tidak
terkenal?”
·
“i..iyaa”
kata petrus terbata-bata
·
“semenjak
dia dekat dengan amalinda, siapa yang tidak mengenalnya?”
·
“owh,
jadi seperti tu, lalu kamu mau berteman dengan ku?”
·
“jikalau
itu menyenangkan kenapa aku menolaknya?” kata hayati sambil melontarkan
senyuman kepada petrus
·
“okay!!
Kalau gitu ayo kita ke kantin, kita akan merayakan kedatanganmu”
·
“tidak
perlu berlebihan, aku sudah kenyang”
·
“tak
apa, minum pun tak apa, yang pentingkan kebersamaanya”
·
“baiklah
kalau memaksa, jikalau itu menyenangkan kenapa aku menolaknya?”
·
“okay,
ayo”
Akhirnya
semua rencana kami berjalan dengan lancar, kini persahabatan kami semakin
berwarna, dan tujuan kami untuk menemukan cinta tinggal beberapa langkah lagi.
Hari berganti
hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun.
Lalu kini sudah kurang lebih 3 tahun dari kelas 3 kami berteman dan bersahabat, hari-hari kami
jalani dengan indah dan menyenangkan, hampir setia waktu kami luangkan
bersama-sama, mulai dari belajar, bermain, bahkan bersenang-senang. Dan kini
gue sudah menemukan artis sebuah perhatian dan kasih sayang yang tulus dari
teman-teman dan sahabat gue terutama amalinda yang gue cintai.
Gue berfikir
sudah terlalu lama gue dekat dengan amalinda dan sudah waktunya gue menyatakan
perasaan gue dengannya, gue bingung kapan dan dengan cara apa gue harus
mengutarakan hal ini terhadapnya, di sisi lain gue opsesi untuk memlikinya
namun di sisi lain juga gue takut kehilangannya.
Untungnya
allah memberikan gue jawaban, semua berawal dari 2 minggu sebelum tanggal 14
februari, semua membahas tentang hari valentine, dan gue yang culun, bego dan
kudet ini awalnya bingung apa itu hari valentine, tapi untungnya petrus sahabat
gue dengan sigap memberikan gue pemahaman tentang momentum valentine’s day.
·
“pet,
kamu tahu kan momentum hari valentine?”
·
“yaa,
itu di adakan setiap tanggal 14 februari”
·
“aku
tahu, tpi apa itu hari valentine?”
·
“hmmhh
sudah ku duga pasti kau ga tahu apa itu hari valentine, baiklah aku kasih tahu
yyah, hari valentine itu adalah momentum cinta di mana semua orang berbagi
coklat untuk orang yang merekaa sayangi”
·
“jadi
aku harus kasih coklat untuk amalinda?”
·
“jikalau
kamu sayang dia”
Akhrinya gue
faham dan mengerti, apa itu hari valentine, gue pun memutuskan untuk
mengutarakan perasaan gue kepada amalinda, namun sayangnya gue ga punya uang untuk
membeli sebuah coklat, tapi yang namanya dicky ga akan mungkin kehilangan akal
untuk bisa mengutarakan perasaan yang sudah 3 tahun ini di pendam.
Gue teringat
kata-kata amalinda kalau dia suka sama cowo yang bisa melukis wajahnya,
semenjak itu gue pura-pura bilang sama amalinda kalau gue pengen belajar
melukis untuk menjadikan melukis sebagai hobby gue, amalinda pun mengiyakannya
dan kini setiap sore di rumah gue dan setiap istirahat di dalam kelas kami
selalu berduaan untuk belajar menggambar.
·
“petrus,
dicky mana? Akhir-akhir ini dia jarang kelihatan?” tanya hayati
·
“owh,
dicky lagi belajar melukis dengan amalinda semenjak 3 hari ini”
·
“kalau
gitu yuk kita lihat?”
·
“ga
perlu, biarin aja mereka berduaan”
·
“owhh
begitu yah” kata amalinda dengan wajah yang agak kusut
·
“kenapa?”
·
“aku
hanya kangen dengan kebersamaan kita yang selalu berempat dulu”
·
“tenang
saja, setelah dicky sedikit mahir dengan hobby baru yang digelutinya kita pasti
akan berkumpul berempat lagi”
·
“semoga
saja tak terlalu lama yah”
1 minggu 5
hari gue belajar melukis dengan amalinda dan kini waktunya gue melukis sendiri
untuk momentum hari valentine, gue juga udah mengumpulkan uang setiap harinya
dan syukurlah uang ini cukup untuk gue gunakan membeli coklat silver king (itu
coklat legendari di jaman gue dulu, kalau loe cari di jaman sekarang ga akan
ketemu, karena coklat itu hanya ada di imajinasi gue).
Demi cinta,
gue pun membersiapkan semuanya, mulai dari lukisan, coklat, surat, kertas kado.
Pokoknya semua hal untuk persiapan gue di tanggal 14 ferbruari nanti. Selama 2
hari ini gue sibuk bahkan lupa untuk berkumpul dengan sahabat-sahabat gue,semua
itu gue lakukan demi amalinda, orang yang gue sayang.
·
“petrus,
amalinda? Kok dicky akhir-akhir ini jarang banget yah kumpul sama kita-kita?
Apa dia udah lupa?” tanya hayati agak sedikit resah
·
“katanya
sih masih banyak urusan yang harus dia lakukan, saat aku tanya apa, dia cuman
jawab nanti juga kamu tahu ko” kata amalinda dengan wajah yang kusut
·
“hey,hey..
tenang saja, sebentar mungkin sebentar lagi dia akan kembali berkumpul lagi
bersama kita”
·
“uuuuummmmmhhhh”
kata hayati sambil memandangi ruang kelas gue
2 hari berlalu dan kini tepat tanggal
14 februari di hari valentine semua barang-barang yang akan gue berikan ke
amalinda sudah gue bungkus rapi, gue pun berangkat ke sekolah dengan gembira
dan penuh harapan. Setibanya di tempat tujuan gue pun berkumpul dengan
sahabat-sahabat gue yang udah lama ini gue tinggal karena kesibukan gue.
·
“hae
sahabat” kata gue sambil tersenyum
·
“cie
ada yang datang nih” kata hayati sambil tersenyum lalu mengajak gue untuk duduk
bersama
·
“dicky,
kamu kemana aja sih udah dua hari ga kumpul, aku kan kangen” kata amalinda
dengan wajah agak cemberut
·
“duhh
maaf yah, soalnya ada yang harus aku lakuin selama 2 hari itu”
·
“apa
sih emangnya?” tanya amalinda
·
“ada
deh, nanti juga kalian tahu”
·
“hhhmmhhh
selalu aja kaya gitu” kata amalinda
·
“udah-udah,
yang pentingkan dicky udah kumpul lagi ama kita” kata petrus sok bijak
·
“iya
sihh” kata amalinda
·
“yudah
kalau gitu yuk kita ke kantin, aku laper” kata gue
·
“yudah
ayo”
Hari ini kami jalani hari-hari seperti
biasa, hingga siang harinya tepatnya setelah jam sekolah usai, gue ngajaka
amalinda buat duduk berdua di bawah pohon beringin besar di depan sekolah, gue
masih ingat kalau tempat ini adalah tempat pertama kali gue mengenal amalinda, dan
kini gue berharap tempat ini pula akan menjadi tempat pertama gue menerima
cinta dari amalinda.
·
“amalinda?”
·
“iya
dick?”
·
“sejujurnya
dari dua minggu yang lalu dan dua hari ini, aku belajar melukis sesuatu agar
bisa memberikan hasil lukisan ku ke kamu di hari kasih sayang ini”
·
“aku
tahu ko”
·
“hah?”
·
“yaa,
aku sudah tahu sebelumnya, aku juga tahu apa yang mau kamu omongin” kata
amalinda menebak sambil tersenyum kehadapan ku
·
“kalau
begitu terimalah kado di hari valentine ini dari ku”
·
“makasih
yah dicky”
·
“lalu,
kamu tahu kan kalau aku dari dulu suka banget sama kamu”
·
“aku
hanya tahu itu semenjak kamu meminta ku untuk mengajari mu melukis”
·
“tapi,
jawaban apa yang akan kau berikan pada ku?”
·
“jawabannya
akan kamu temukan jikalau kamu nanti malam mengerjakan tugas matematika yang di
berikan ibu tuti”
·
“maksut
mu amalinda?”
(Seketika saja mobil
amalinda tiba untuk menjemputnya pulang ke rumah, amalinda memang anak orang
kaya, sama seperti petrus, dan yang aku tahu ayahnya adalah seorang bisnis man
terkaya di kota ku)
·
“udah
yah dicky, sampai jumpa besok” kata amalinda yang sempat-sempatnya mencubit
pipi ku sebelum menuju mobilnya.
setelah 2 menit di jemputnya amalinda,
bokap gue pun datang dengan motor kunonya yang di beli di era 90’an, kalau ga
salah mereknya itu bernama yamahmut. Tapi gue ga akan membahas tentang motor
bokap gue, karena di saat itu gue terus-terusan kepikiran dengan maksut dari
kata-kata amalinda.
Setibanyak di rumah, gue pun ganti
pakaian, sholad, dan makan siang. Sekitar satu jam setelah makan gue teringat
kata-kata amalinda, kalau gue mau tahu jawaban yang akan amalinda katakan gue
harus ngerjain tugas matematika dari ibu siti, tapi jujur aja gue benci
matematika, namun karena cinta akhirnya gue coba buat mengerjakan tugas itu. Awalnya
gue cuman membuka tas gue, dan ternyata ada dua buah kado, gue pikir amalinda
antusias banget sama gue sampai-sampai membuatkan dua buah kado, namun setelah
gue lihat ternyata kado satunya lagi hanya bertulisan (dari SNH), dan yang
satunya lagi dari amalinda.
Pastinya gue akan buka kado dari amalinda
dan setelah gue membaca suratnya ternyata amalinda juga memendam perasaan yang
sama dengan gue, gue langsung kegirangan, senang dan bahagia, gue merasa hidup
gue penuh dengan warna. Namun kesenangan gue terhenti sejenak di saat melihat
kado dari orang misterius itu.
Saat gue buka isinya, ternyata adalah
sebuah coklat kecil, al-quran mini, dan gantungan berbentuk tulisan Allah. Di kado
itu juga terdapat sebuah surat yang kalau ga salah seperti ini kata-katanya.
§
“Selamat
hari valentine dicky, maaf kalau aku kasih kado ini diam-diam, aku takut harus
menyerahkannya secara langsung, dan sejujurnya aku ga mau merayakan hari
valentine ini, tapi demi menyatakan perasaan yang udah 5 tahun ini aku pendam
aku rayakan valentine ini dengan mu walau kamu tak mengenal ku, aku adalah
orang yang satu sekolah dengan mu di sd 5 bh, dan pindah ke sd 3 mbh hanya
untuk bisa melihat kamu bahagia, karena aku selalu melihat kesedihan dalam jiwa
dan perasaan mu. Aku tahu siapa kamu tapi kmu ga akan bisa tahu aku siapa karena
kamu ga akan mengenal aku seutuhnya, kamu harus menyadari kalau aku selalu di
samping mu, tapi sayangnya kamu ga menyadari keberadaan ku. Aku memberikan mu
qur’an kecil karena aku tahu kamu sebenarnya beriman tapi kamu takut unuk
mendalaminya karena didikan keras ayah mu, aku juga hanya memberikan mu coklat
kecil karena aku tahu amalinda akan memberikan coklat yang besar untuk mu, aku
tak ingin kamu jadi gemuk dan di ejek orang-orang, aku memberikaan mu gantungan
kunci dengan ukiran nama tuhan kita, karena aku melihat tuhan dalam diri mu,
ada sebuah kata-kata dalam lagu india yang aku sukai, “tujh mein rab dikhta hai”
yang artinya aku melihat tuhan dalam diri mu maka aku mencintai mu, walau kamu
bukan mencintai ku tapi aku yakin tuhan tidak akan pernah salah dan akan ada
masanya kamu akan melihat ku, tujh mein rab dikhta hai, dan selamat hari
valentine”
Sepontan kata-kata itu membuat gue
merinding dan bingung, siapa selama ini yang membuntuti gue dan mengamati
gerak-gerik hidup gue. Namun di balik ketakutan itu gue coba untuk tetap
baahagia karena kini gue temukan cinta amalinda, wanita yang sudah 3 tahun gue
incar-incarkan, memang tak mudah untuk bisa menjaga hati demi wanita, tapi ini
lah cinta, ketika seseorang bertindak di luar logika untuk seseorang terutama
lawan jenisnya, itu bukan karena mereka lebay, aneh, dan gila, tapi karena
mereka tulus mencintai, seperti cinta gue ke amalinda, dan cinta SNH terhadap
gue.
Semenjak menjadi kekasih amalinda
hidup semakin indah dan penuh warna, tangan ini terasa hangat karena genggaman
amalinda, hidup gue penuh senyuman, di saat apa pun gue tersenyum, mulai dari
makan, di omelin, buang hajat BAB, dan masih banyak hal yang gue jalani
dengan tersenyum.
Namun anehnya, di saat gue dan
amalinda bahagia dengan lukisan senyuman yang terpampang sepanjang hari, gue
melihat sisi gelap dalam diri petrus dan hayati, entah apa yang terjadi gue
hanya berfikir, apakah petrus sudah menyatakan perasaannya terhadap hayati. dan
pertanyaan itu termengiang-ngiang dalam benak gue, gue hanya takut apakah cinta
bisa menjadi akhir sebuah persahabata, namun gue melihat cinta membuat
persahabatan semakin erat seperti yang gue rasakan dengan amalinda.
1 tahun berlalu, dan 1 tahun sudah
hidup gue penuh warna, lalu sekarang gue harus mempersiapkan diri untuk ujian
karena kini gue sudah menjadi bagian dari kaka sulung di sekolah, kalau loe ga
faham, maksut kata-kata gue itu sudah kelas 6 SD.
Hari-hari menuju ujian tetap manis dan
indah seperti biasa, ya, di karena amalinda yang perhatian dan tak pernah letih
mengajarkan gue ilmu. Jadi anak-anak itu rasanya enak, ga ada beban, ga ada
yang perlu di pikir panjang, semua di jalani aja, dan kekasih itu ibarat teman,
sahabat, keluarga dan tuhan yang selalu ada, memahami, mengerti apa yang baik
dan apa yang kita inginkan.
Namun, yang namanya warna, ga
selamanya bisa permanen, dan kini warna gue pudar. Semua berawal di tempat yang
sama, di bawah pohon beringin besar tua di depa sekolah, biasanya gue tersenyum
di sana, dan biasanya pohon itu melindungi gue dari panas, tapi sayangnya
sekarang haris lebih panas, di tambah lagi kata-kata amalinda yang membuat hati
gue rapuh seperti pohon beringin tua ini.
·
“dick,
kayanya kita ga akan bisa sama-sama lagi”
·
“apa?
Maksut mu apa sih? Kita pasti akan bersama kan? Petrus, hayati, kamu dan aku
akan tetap bersama selamanya”
·
“ga,
ga selamanya kebahagian itu bisa di rasakan dick, dan satu hal yang harus kita
sadari, kita masih terlalu kecil untuk mengenal cinta sejati, juga mengenal
arti kebahagiaan”
·
“lantas,
kebahagian yang kita rasakan saat ini?”
·
“kamu
ga akan mengerti dick, banyak hal yang belum kamu fahami dari kami bertiga”
·
“maksutnya
apa sih? Sumpah deh aku ga faham?”
·
“setelah
kelulusan aku akan pergi ke banjarmasin”
·
“buat
apa? Kalau mau liburan yaa semoga kamu bahagia dehh”
·
“aku
akan menetap di sana, dan mungkin selamanya kita akan berpisah”
·
“kenapa?”
·
“karena
papah ku harus mengurus prusahaanya di sana, dan kami sekeluarga harus selalu
bersama”
·
“jadi
seperti itu yah” kata gue dengan wajah yang kusut dan kepala yang mulai
menunduk
·
“kamu
ga perlu sedih, karena aku akan tetap sayang sama kamu”
·
“uuummmhhh”
·
“aku
selalu bila kan sama kamu, ketika kamu sendiri tampat teman, jadikan hobby
sebagai penangkal kesedihan mu, sekarang kamu punya hobby melukis, lukislah
ketik kamu sedih, lukislah sesuatu yang indah, sesuatu yang mampu mewarnai hati
kamu lagi, aku yakin ko kamu bisa dick, aku juga yakin akan ada yang menemanimu
nanti”
·
“aku
ingin kamu selalu menemani ku”
·
“tapi
ga akan mungkin itu terjadi, intinya kamu harus terus bangkit ketika kamu
jatuh, ingat kata-kata ku”
·
“baiklah”
kata ku sambil melontarkan senyuman yang sebenarnya palsu
Semenjak gue mengetahui hal itu, kini
gue mencoba untuk membuat sebuah kenangan terhadap amalinda, gue pun mencoba
melukis wajah amalinda untuk kedua kalinya, hampir setiap malam gue menggambar
di atas sebuah kertas karton yang gue potong seukuran A4. Seteah lukisan itu
selesai dalam kurun waktu satu minggu, gue pun membingkainya dan membungkusnya
dalam sebuah kota yang gue balut dengan kertas kado.
Dua minggu berlalu setelah gue
menyelesaikan lukisan gue, akhirnya waktu perpisahan tiba, dan hari ini juga
akan menjadi penentuan kelulusan, sebelum acara di mulai gue mengajak amalinda
ke tempat pertama kali gue mengenalnya, di tempat itu kami menghabiskan waktu
yang tersisa hanya berdua. Tak lupa juga gue memberikan kenangan-kenangan yang
gue buat selama dua minggu ini. Amalinda sangat senang dan bahagia sampai ingin
menangis ketika melihat wajah gue, amalinda hanya bisa berkata “kamu akan tetap
jadi cowo paporit ku walau kita ga bisa ketemu lagi, tapi yakin deh, aku selalu
ada setiap kali kamu melukis”.
Tak lama setelah itu acara pun di
mulai dan keputusan dari disan pendidikan, semua siswa di sekolah kami lulus,
namun setelah bersorak gembira waktu untuk melambaikan tangan ke hadapan sebuah
mobil yang akan meluncur menuju banjarmasin, amalinda pergi dan kini gue hidup
tampa cinta, merah menjadi hitam, dan biru menjadi putih. Hiup gue seperti
gambar poto di rea 70’an.
Namun sementara gue merana, hayati dan
petrus........
·
“ini
sudah ke tiga kalinya aku utarakan perasaan ku hayati”
·
“jawaban
ku akan tetap sama ko”
·
“aku
tahu itu, tapi setidaknya aku sudah mengutarakan isi hati ini walau 3 kali ini
juga kau bilang tidak”
·
“maaf
petrus, kita berbeda kepercayaan, dan aku sedang menunggu seseorang, jadi tak
akan ada harapan untuk kamu”
·
“ga
papa ko, aku tahu dan mengerti. Tapi aku hanya bilang, aku akan pergi ke pulau
jawa untuk menuntut ilmu, dan jiakalau memang kita bisa sama-sama lagi kaya
dulu, aku ingin bisa melihat senyuman mu”
·
“semoga
senyuman itu bisa terlukis di bibir ku”
·
“baiklah
kalau begitu, sampai jumpa”
tak lama setelah gue mengantarkan
kepergian amalinda, gue pun langsung mendatangi petrus dan hayati, namun entah
kenapa wajah petrus berbeda seperti bisanya. Yang tertulis di wajahnya adalah
kepasrahan, kekecewaan, kesedihan, dan amarah yang besar, semua bercampur
menjadi satu. Dan hal yang membuat gue terkejut adalah bisikan petrus yang tak
seperti biasanya “selamat untuk mu, dan ku harap kau bisa menjaga hayati untuk
ku”.
Mendengar kata-kata petrus membuat perasaan
takut dan khawatir gue tumbuh. Gue semakin bingung apa yang terjadi dengan
kebahagiaan yang telah gue dapatkan selama 4 tahun ini. Apakah ini yang di
sebut dengan kutukan? Atau inikah bukti kalau cinta itu seperti racun yang di
teteskan di dalam madu, lalu kebahagiaan apa yang harus ku miliki, hati ini
berasa pedih, sakit, seakan-akan semua teman dan sahabat gue menusuk hati gue
dengan besi panas yang mendidih.
·
“dicky,
ayo kita pulang?” ajak hayati
·
“kenapa?”
·
“kenapa
apa dicky? Bukankah seperti biasanya kita pulsa bersama, walau sekarang hanya
berdua”
·
“aku
hanya merasa ada yang aneh akhir-akhir ini”
·
“mungkin
karena kesedihan mu setelah kepergian amalinda, lama-lama kamu pasti akan
bahagia lagi”
·
“bahagia?”
·
“yaa,
kamu akan bahagia lagi”
·
“setelah
bahagia, aku akan terluka lagi?”
·
“tapi
setelah itu kamu akan bahagia lagi, percayalah”
·
“uuummmmhhh”
kata gue agak sedikit pusing
Setelah kelulusan gue pun mulai
kesepian, hanya ada hayati yang tersisa. Sahabat kecil lebih memilih untuk
menjari kesenangannya masih-masing, maka kini tinggal gue sendiri bersama
hayati.
1 bulan berlalu, gue mendapat kabar
kalau petrus meninggal dunia karena kecelakaan, katanya semenjak kelulusan
petrus menjadi anak yang bandel dan nakal, bahkan dia ikut dunia malam dan
balapan liar, hidupnya tak teratur dan seperti orang gilla, pagi dan pulang
subuh, entah apa yang terjadi gue ga mengerti dengan sikapnya saat ini, tapi
yang jelas, petrus bukanlah anak nakal, dia hanya kehilangan warna dalam hidupnya.
Di hari terakir petrus, gue mengajak
hayati untuk melihat jasat terakhir petrus, ingin menangis tapi gue malu, tak
ingin menangis rasanya hal itu membuat gue semakin pedih, kemaren amalinda,
kini petrus. Gue pun melihat hayati dan berharap warna gue tak hilang untuk ke
tiga kalinya.
Setelah pemakaman petrus, gue dan
hayati jalan-jalan ke sekolah lama gue. Gue dan hayati berhenti di sebuah pohon
beringin besar tempat gue dan amalinda berbagi cerita, namun sayangnya beringin
itu hanya tersisa paruhan batang dan akarnya, entah siapa yang menebang
kenangan itu gue tak tahu, namun gue sepontan menangs di hadapan hayati dan
berkata.
“aku kehilangan warna ku untuk ke-dua
kalinya, dan aku tak ingin kehilangan warna ku lagi untuk ke-tiga kalinya, ku
mohon berjanjilah untuk tetap di dekat ku hayati, aku tak punya siapa-siapa
untuk berbagi, tak punya siapa-siapa untuk tersenyum, aku hanya bisa melukis
dan menyendiri, namun senyuman ku tak bisa ku temukan dengan permanen, aku
mohon, tetap lah................” gue berkata dengan tersendu-sendu tak bisa
menahan sakit yang gue rasakan selama ini
·
“tenanglah,
dari dulu aku selalu di dekat mu ko”
·
“maksut
mu?”
·
“aku
adalah orang yang dari kelas satu melihat kesedihan mu”
·
“kelas
satu?”
·
“yaa,
dan aku yang merayakan hari valentine bersama mu walau tak kita rayakan dengan
nyata”
·
“jadi
kamu?”
·
“SNH,
SITI NUR HAYATI, itu aku”
·
“bagaimana
bisa?”
·
“tujh
mein rab dikhta hai, aku melihat tuhan dalam diri mu maka aku mencintai mu”
·
“lantas
petrus?”
·
“aku
tak pernah menerima cintanya karena kamu”
·
“kenapa?”
·
“karena
tujh mein rab dikhta hai”
·
“kamu
melihat tuhan dalam diri ku maka kamu mencitai ku?”
·
“ya,
walau kamu tak bisa melihat ku tapi aku tahu, tuhan itu maha tahu dan kamu
pasti akan tahu cepat atau lambat”
·
“jiakalau
aku mencintai mu apakah amalinda akan membenci ku?”
·
“tidak,
karena amalinda meminta ku untuk terus bersama mu”
·
“apakah
cinta mu hanya karena permintaan amalinda?”
·
“sudah
ku bilang, karena tujh mein rab dikhta hai”
·
“aku
hanya minta satu hal dari mu, tolong warnai hari ku seperti dulu, aku bingung
kebahagiaan apa yang harus ku miliki tapi, aku ingin tersenyum”
·
“kalau
begitu ayo, tersenyumlah bersama ku, dan yakinlah tuhan yang melindungi kita?”
·
“aku
yakin tuhan melindungi kita”
·
“tujh
mein rab dikhta hai?”
·
“ya...
tujh mein rab dikhta hai”
·
“dan
kamu akan bahgia dengan warna ku, ya
kan?”
·
“jikalau
itu membuat ku bahagia kenapa tidak” kata gue sambil memegang tangan hayati.
Kini hari gue mulai berwarna lagi, dan
menjelang pendaftaran siswa baru untuk tingkat SMP, gue dan hayati memutuskan
untuk satu sekolah di tempat yang sama. Dan kini gue mencintai hayati, satu hal
yang gue pelajari bersama hayati yang muslimah, yakinlah pada cinta, dan ketika
warna itu memudar, loe cukup mewarnainya kembali. jangan lupa untuk yakin pada
keputusan tuhan dan jangan pernah biarkan elo bersedih, teruslah bangkit dan
loe akan temukan cinta sejati elo.
Tujh mein rab dikhta hai, aku melihat
tuhan dalam diri mu, maka aku mencintai mu.
Catatan : cerita ini bersumber dari
realita seseorang yang sudah di dramatisirkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar