Sabtu, 30 April 2016

cerpennya DICKY BONEKA (DIBO) #kebahagiaan yang aku cari

KATA PENGANTAR
Hello sahabat, sebelumnya kenalin dulu nama gue dicky, dan loe bisa panggil gue dicky boneka. Nama boneka ini berasal dari ungkapan kata bocah nekat kalimantan yang gue singkat menjadi BONEKA.
Di dalam postingan ini, gue akan berbagi cerita cinta seorang bocah bernama dicky. Di dalam cerita pendek ini gue akan berbagi pengalaman dan motivasi buat sobat-sobat yang pasrah untuk mengejar cinta sejatinnya dan jatuh ke dalam rumah keterpurukan setelah di buang dan di lupakan dengan kekasihnya.
Okay guys, langsung aja deh. Selamat menyimak cerita-nya dicky boneka di bawah ini dan semoga terhibur.

#kebahagiaan yang aku cari
Karya: dicky boneka

Hello sobat, kenalin nama gue dicky. Gue lahir pada tanggal 1 agustus 1997 dan dari dulu sampai sekarang, gue adalah bocah gede sederhana yang terlahir utuk mencari cinta sejati. Sebelum loe tahu kisah cinta pertama gue yang manis bercampur asam dan asin, gue akan sedikit berbicara tentang masa kecil gue yang kurang bahagia.
Di dunia ini, gue di lahirkan di sebuah tempat yang di sebut dengan nama kamar tidur. Di sana nyokap gue di bantu dengan seorang bidan beranak yang biayanya hanya sukarela atau dalam bahasa banjarnya itu seadanya. Kehidupan gue sederhana, gue bukan orang kaya yang punya rumah gede dan bertingkat, gue juga ga punya mobil yang bisa melindungi gue dari hujan dan panas matahari ketika bepergian ke rumah nenek. Namun gue bukan orang miskin yang ga bisa membeli sebuah yoyo mainan.
Hidup sederhana itu bukan berarti gue akan sengsara, gue ga perlu membayar untuk bisa mendapatkan sebuah kebahaigian, yang gue perlukan hanyan sahabat yang setia dan selalu ada ketika gue sedih mau pun senang.
Masa kecil gue indah dan menyenangkan bersama sahabat-sahabat gue, di dunia ini gue hanya punya 5 sahabat di komplek tempat gue tinggal, walau hanya 5 orang gue masih bisa bahagia dan senang bersama mereka, namun tak selamanya gue tersenyum dan tertawa di karenakan sifat bokap gue yang keras dan angkuh. Hampir setiap malam tangan gue di cubit dan di puku hanya karena kebodohan gue. Yap, gue memang bodoh dan tolol untuk memahami sebuah pelajaran. Namun pemikiran kekanakan gue yang belum dewasa ini membuat gue membenci bokap gue. Gue berfikir gue ga akan menemukan perhatian dan kasih sayang lewat orang tua gue.
Suatu hari, di saat gue naik ke kelas 3, gue pindah sekolah dari SD 5 BH ke SD 3 MBH, di sekolah baru ini gue menemukan beberapa hal baru yang ga pernah gue temukan di rumah, sekolah lama, dan komplek perumahan gue. Semua di mulai ketika gue berkenalan dengan teman-teman baru gue di sekolah baru itu. Dan saat itu gue melihat seorang wanita cantik manis dan lucu bernama amalinda.
Amalinda adalah seorng wanita idaman semua bocah goblok di sekolah, siapa sih yang ga tertariik dengan amalinda yang sudah berkali-kali menyumbangkan pialanya untuk sekolah, dari cerdas cermat, lomba baca puisi sampai lomba melukis dia selalu membawa piala untuk nama baik sekolah.
Gue menyadari kalau gue jauh dari kata serasi dengan amalinda, namun bicara tentang cinta, ga akan ada yang tahu jikalau cinta sudah berbicara.
Perkenalan pertama gue dengan amalinda berawal dari sebuah pohon beringin besar yang senantiasa melindungi siapa saya yang bernaung di bawahnya dari serangan panas matahari. Awalnya gue ragu, namun karena rasa suka gue akhirnya gue beranikan diri. Perkenalan pertama itu serasa menyenangkan gue bisa melihat senyuman manisnya, kata-kata lembutnya. Rasanya gue sudah di sihir oleh amalinda lewat pesonanya.
Kehidupan gue mulai berwarna semenjak mengenal amalinda, kini gue berteman dan terkadang makan bareng di kantin bahkan belajar bareng di perpustakaan, gue pikir dengan ini gue bisa mendapatkan sebuah perhatian dan kasih sayang yang gue cari dari dulu.
Di sekolah baru ini gue ga cuman berteman dengan wanita cantik manis seperti bidadari dengan nama amalinda, tapi gue juga punya teman sekaligus sahabat dengan nama petrus, petrus adalah bocah dengan IQ di atas rata-rata, dia juga anak orang kaya, rumahnya besar bertingkat di sertai taman bermain, perpustakaan dan kolam renang, namun anehnya orang seperti petrus tidak memiliki teman semenjak duduk di kelas 1.
Kini gue menjadi teman pertama petrus sekaligus sahabatnya, petrus bertindak baik terhadap gue, kami saling bertukar pikiran dan berbagi ilmu, aneh juga sih gue berbagi ilmu dengan orang cerdas seperti petrus.
Hari-hari gue jalani dengan indah, di temani petrus yang baik hati, dan juga amalinda yang perhatian terhadap gue, kini hidup gue mulai berwarna. 3 minggu gue berteman dengan petrus ternyata kami memiliki suatu tunjuan yang sama, ada yang tahu itu apa? Tepatnya cinta. Yap, kami mempunyai tujuan untuk memiliki cinta sejati. Petrus pernaah cerita terhaadap gue kalau dia suka sama seorang wanita muslimah banget di kelas sebelah dengan nama situ nur hayati.
Situasinya sedang di perpustaakaan, dan kami berdua sedang membaca buku ilmu pengentahuan alam, tak ada salahnya gue berteman dengan petrus, tidak hanya baik gue semangin pandai memahami pelajar di tambahlagi ada amalinda yang selalu memberikan gue semangat untuk menjadi pandai.

·         “dick, akhir-akhir ini memikirkan seseorang” kata petrus sambil memegang buku.
·         “siapa yang kau pikirkan pet?”
·         “aku kayanya sedang jatuh cinta dick”
·         “hah? Jatuh cinta? Yang benar saja pet?”
·         “kau ini mengira aku ini tak pernah memahami arti cinta? Bahkan aku lebih faham artis sebuah cinta dari pada kau dick”
·         “yaaa aku tahu kau cerdas karena di rumah mu ada ruangan perpustakaan jadi kamu bisa mempelajari arti cinta dengan mudah, tapi seiapa orang yang kamu maksud?”
·         “namanya siti nur ha...”
·         “apa? Siti nur hartati guru BP kita yang gemuk, besar, bau, dan jelek itu?” kata ku dengan keras karena terkejut
·         “hey, jangan keras-keras ini perpustakaan, lagi pulau kau ini gila yah, aku suka sama siti nur hayati anak kelas 3 A”
·         “owhh, hehe maaf ku pikir.....”
·         “ahh sudahlah, ayo kita kembali ke kelas”
·         “okay, okay”

Nah begitulah, tapi jujur semenjak itu gue takut karena gue sudah menjelek-jelekan guru BP yang terkenal kejamnya.
Malam harinya petrus datang ke rumah gue untuk membicarakan tentang rasa sukanya terhadap hayarti, petrus meminta gue untuk menemaninya berkenalan dengan hayati, namun karena takut gaga gue mengajak amalinda untuk membantu petrus kenalan sama hayati.
Esok harinya, kami siap di posisi sambil menunggu hayati dayang, biasanya hayati akan duduk sendirian di bawah pohon beringin besar yang ada di dalam sekolah, entah apa yang di lakukannya, tapi yang pasti di saat itulah petrus akan masuk untuk menunjukan pesonanya, maksut gue berkenalan dengannya.
15 menit setelah bell istirahat berbunyi hayati pun datang dan duduk di tempat biasa dia menyendiri. Setelah beberapa detik petrus pun melancarkan recana yang telah kami susun bertiga malam tadi.

·         “hae, kau sendirian aja di sini?”
·         “menurut mu?”
·         “emmmhhh, oya boleh kita kenalan?”
·         “untuk apa?”
·         “untuk menjadi teman atau sahabat, aku selalu melihat kau menyendiri tampa teman di sini, lagi pula kau bisa berteman dengan teman-teman ku yang lain, dan pasti akan menyenangkan”
·         “siapa? Dicky dan amalinda?”
·         “kau mengenal dicky? Bukankah dia......”
·         “tidak terkenal?”
·         “i..iyaa” kata petrus terbata-bata
·         “semenjak dia dekat dengan amalinda, siapa yang tidak mengenalnya?”
·         “owh, jadi seperti tu, lalu kamu mau berteman dengan ku?”
·         “jikalau itu menyenangkan kenapa aku menolaknya?” kata hayati sambil melontarkan senyuman kepada petrus
·         “okay!! Kalau gitu ayo kita ke kantin, kita akan merayakan kedatanganmu”
·         “tidak perlu berlebihan, aku sudah kenyang”
·         “tak apa, minum pun tak apa, yang pentingkan kebersamaanya”
·         “baiklah kalau memaksa, jikalau itu menyenangkan kenapa aku menolaknya?”
·         “okay, ayo”

Akhirnya semua rencana kami berjalan dengan lancar, kini persahabatan kami semakin berwarna, dan tujuan kami untuk menemukan cinta tinggal beberapa langkah lagi.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Lalu kini sudah kurang lebih 3 tahun dari kelas 3  kami berteman dan bersahabat, hari-hari kami jalani dengan indah dan menyenangkan, hampir setia waktu kami luangkan bersama-sama, mulai dari belajar, bermain, bahkan bersenang-senang. Dan kini gue sudah menemukan artis sebuah perhatian dan kasih sayang yang tulus dari teman-teman dan sahabat gue terutama amalinda yang gue cintai.
Gue berfikir sudah terlalu lama gue dekat dengan amalinda dan sudah waktunya gue menyatakan perasaan gue dengannya, gue bingung kapan dan dengan cara apa gue harus mengutarakan hal ini terhadapnya, di sisi lain gue opsesi untuk memlikinya namun di sisi lain juga gue takut kehilangannya.
Untungnya allah memberikan gue jawaban, semua berawal dari 2 minggu sebelum tanggal 14 februari, semua membahas tentang hari valentine, dan gue yang culun, bego dan kudet ini awalnya bingung apa itu hari valentine, tapi untungnya petrus sahabat gue dengan sigap memberikan gue pemahaman tentang momentum valentine’s day.
·         “pet, kamu tahu kan momentum hari valentine?”
·         “yaa, itu di adakan setiap tanggal 14 februari”
·         “aku tahu, tpi apa itu hari valentine?”
·         “hmmhh sudah ku duga pasti kau ga tahu apa itu hari valentine, baiklah aku kasih tahu yyah, hari valentine itu adalah momentum cinta di mana semua orang berbagi coklat untuk orang yang merekaa sayangi”
·         “jadi aku harus kasih coklat untuk amalinda?”
·         “jikalau kamu sayang dia”
Akhrinya gue faham dan mengerti, apa itu hari valentine, gue pun memutuskan untuk mengutarakan perasaan gue kepada amalinda, namun sayangnya gue ga punya uang untuk membeli sebuah coklat, tapi yang namanya dicky ga akan mungkin kehilangan akal untuk bisa mengutarakan perasaan yang sudah 3 tahun ini di pendam.
Gue teringat kata-kata amalinda kalau dia suka sama cowo yang bisa melukis wajahnya, semenjak itu gue pura-pura bilang sama amalinda kalau gue pengen belajar melukis untuk menjadikan melukis sebagai hobby gue, amalinda pun mengiyakannya dan kini setiap sore di rumah gue dan setiap istirahat di dalam kelas kami selalu berduaan untuk belajar menggambar.

·         “petrus, dicky mana? Akhir-akhir ini dia jarang kelihatan?” tanya hayati
·         “owh, dicky lagi belajar melukis dengan amalinda semenjak 3 hari ini”
·         “kalau gitu yuk kita lihat?”
·         “ga perlu, biarin aja mereka berduaan”
·         “owhh begitu yah” kata amalinda dengan wajah yang agak kusut
·         “kenapa?”
·         “aku hanya kangen dengan kebersamaan kita yang selalu berempat dulu”
·         “tenang saja, setelah dicky sedikit mahir dengan hobby baru yang digelutinya kita pasti akan berkumpul berempat lagi”
·         “semoga saja tak terlalu lama yah”


1 minggu 5 hari gue belajar melukis dengan amalinda dan kini waktunya gue melukis sendiri untuk momentum hari valentine, gue juga udah mengumpulkan uang setiap harinya dan syukurlah uang ini cukup untuk gue gunakan membeli coklat silver king (itu coklat legendari di jaman gue dulu, kalau loe cari di jaman sekarang ga akan ketemu, karena coklat itu hanya ada di imajinasi gue).
Demi cinta, gue pun membersiapkan semuanya, mulai dari lukisan, coklat, surat, kertas kado. Pokoknya semua hal untuk persiapan gue di tanggal 14 ferbruari nanti. Selama 2 hari ini gue sibuk bahkan lupa untuk berkumpul dengan sahabat-sahabat gue,semua itu gue lakukan demi amalinda, orang yang gue sayang.

·         “petrus, amalinda? Kok dicky akhir-akhir ini jarang banget yah kumpul sama kita-kita? Apa dia udah lupa?” tanya hayati agak sedikit resah
·         “katanya sih masih banyak urusan yang harus dia lakukan, saat aku tanya apa, dia cuman jawab nanti juga kamu tahu ko” kata amalinda dengan wajah yang kusut
·         “hey,hey.. tenang saja, sebentar mungkin sebentar lagi dia akan kembali berkumpul lagi bersama kita”
·         “uuuuummmmmhhhh” kata hayati sambil memandangi ruang kelas gue


2 hari berlalu dan kini tepat tanggal 14 februari di hari valentine semua barang-barang yang akan gue berikan ke amalinda sudah gue bungkus rapi, gue pun berangkat ke sekolah dengan gembira dan penuh harapan. Setibanya di tempat tujuan gue pun berkumpul dengan sahabat-sahabat gue yang udah lama ini gue tinggal karena kesibukan gue.


·         “hae sahabat” kata gue sambil tersenyum
·         “cie ada yang datang nih” kata hayati sambil tersenyum lalu mengajak gue untuk duduk bersama
·         “dicky, kamu kemana aja sih udah dua hari ga kumpul, aku kan kangen” kata amalinda dengan wajah agak cemberut
·         “duhh maaf yah, soalnya ada yang harus aku lakuin selama 2 hari itu”
·         “apa sih emangnya?” tanya amalinda
·         “ada deh, nanti juga kalian tahu”
·         “hhhmmhhh selalu aja kaya gitu” kata amalinda
·         “udah-udah, yang pentingkan dicky udah kumpul lagi ama kita” kata petrus sok bijak
·         “iya sihh” kata amalinda
·         “yudah kalau gitu yuk kita ke kantin, aku laper” kata gue
·         “yudah ayo”


Hari ini kami jalani hari-hari seperti biasa, hingga siang harinya tepatnya setelah jam sekolah usai, gue ngajaka amalinda buat duduk berdua di bawah pohon beringin besar di depan sekolah, gue masih ingat kalau tempat ini adalah  tempat pertama kali gue mengenal amalinda, dan kini gue berharap tempat ini pula akan menjadi tempat pertama gue menerima cinta dari amalinda.

·         “amalinda?”
·         “iya dick?”
·         “sejujurnya dari dua minggu yang lalu dan dua hari ini, aku belajar melukis sesuatu agar bisa memberikan hasil lukisan ku ke kamu di hari kasih sayang ini”
·         “aku tahu ko”
·         “hah?”
·         “yaa, aku sudah tahu sebelumnya, aku juga tahu apa yang mau kamu omongin” kata amalinda menebak sambil tersenyum kehadapan ku
·         “kalau begitu terimalah kado di hari valentine ini dari ku”
·         “makasih yah dicky”
·         “lalu, kamu tahu kan kalau aku dari dulu suka banget sama kamu”
·         “aku hanya tahu itu semenjak kamu meminta ku untuk mengajari mu melukis”
·         “tapi, jawaban apa yang akan kau berikan pada ku?”
·         “jawabannya akan kamu temukan jikalau kamu nanti malam mengerjakan tugas matematika yang di berikan ibu tuti”
·         “maksut mu amalinda?”
(Seketika saja mobil amalinda tiba untuk menjemputnya pulang ke rumah, amalinda memang anak orang kaya, sama seperti petrus, dan yang aku tahu ayahnya adalah seorang bisnis man terkaya di kota ku)
·         “udah yah dicky, sampai jumpa besok” kata amalinda yang sempat-sempatnya mencubit pipi ku sebelum menuju mobilnya.

setelah 2 menit di jemputnya amalinda, bokap gue pun datang dengan motor kunonya yang di beli di era 90’an, kalau ga salah mereknya itu bernama yamahmut. Tapi gue ga akan membahas tentang motor bokap gue, karena di saat itu gue terus-terusan kepikiran dengan maksut dari kata-kata amalinda.

Setibanyak di rumah, gue pun ganti pakaian, sholad, dan makan siang. Sekitar satu jam setelah makan gue teringat kata-kata amalinda, kalau gue mau tahu jawaban yang akan amalinda katakan gue harus ngerjain tugas matematika dari ibu siti, tapi jujur aja gue benci matematika, namun karena cinta akhirnya gue coba buat mengerjakan tugas itu. Awalnya gue cuman membuka tas gue, dan ternyata ada dua buah kado, gue pikir amalinda antusias banget sama gue sampai-sampai membuatkan dua buah kado, namun setelah gue lihat ternyata kado satunya lagi hanya bertulisan (dari SNH), dan yang satunya lagi dari amalinda.

Pastinya gue akan buka kado dari amalinda dan setelah gue membaca suratnya ternyata amalinda juga memendam perasaan yang sama dengan gue, gue langsung kegirangan, senang dan bahagia, gue merasa hidup gue penuh dengan warna. Namun kesenangan gue terhenti sejenak di saat melihat kado dari orang misterius itu.

Saat gue buka isinya, ternyata adalah sebuah coklat kecil, al-quran mini, dan gantungan berbentuk tulisan Allah. Di kado itu juga terdapat sebuah surat yang kalau ga salah seperti ini kata-katanya.

§        “Selamat hari valentine dicky, maaf kalau aku kasih kado ini diam-diam, aku takut harus menyerahkannya secara langsung, dan sejujurnya aku ga mau merayakan hari valentine ini, tapi demi menyatakan perasaan yang udah 5 tahun ini aku pendam aku rayakan valentine ini dengan mu walau kamu tak mengenal ku, aku adalah orang yang satu sekolah dengan mu di sd 5 bh, dan pindah ke sd 3 mbh hanya untuk bisa melihat kamu bahagia, karena aku selalu melihat kesedihan dalam jiwa dan perasaan mu. Aku tahu siapa kamu tapi kmu ga akan bisa tahu aku siapa karena kamu ga akan mengenal aku seutuhnya, kamu harus menyadari kalau aku selalu di samping mu, tapi sayangnya kamu ga menyadari keberadaan ku. Aku memberikan mu qur’an kecil karena aku tahu kamu sebenarnya beriman tapi kamu takut unuk mendalaminya karena didikan keras ayah mu, aku juga hanya memberikan mu coklat kecil karena aku tahu amalinda akan memberikan coklat yang besar untuk mu, aku tak ingin kamu jadi gemuk dan di ejek orang-orang, aku memberikaan mu gantungan kunci dengan ukiran nama tuhan kita, karena aku melihat tuhan dalam diri mu, ada sebuah kata-kata dalam lagu india yang aku sukai, “tujh mein rab dikhta hai” yang artinya aku melihat tuhan dalam diri mu maka aku mencintai mu, walau kamu bukan mencintai ku tapi aku yakin tuhan tidak akan pernah salah dan akan ada masanya kamu akan melihat ku, tujh mein rab dikhta hai, dan selamat hari valentine”


Sepontan kata-kata itu membuat gue merinding dan bingung, siapa selama ini yang membuntuti gue dan mengamati gerak-gerik hidup gue. Namun di balik ketakutan itu gue coba untuk tetap baahagia karena kini gue temukan cinta amalinda, wanita yang sudah 3 tahun gue incar-incarkan, memang tak mudah untuk bisa menjaga hati demi wanita, tapi ini lah cinta, ketika seseorang bertindak di luar logika untuk seseorang terutama lawan jenisnya, itu bukan karena mereka lebay, aneh, dan gila, tapi karena mereka tulus mencintai, seperti cinta gue ke amalinda, dan cinta SNH terhadap gue.

Semenjak menjadi kekasih amalinda hidup semakin indah dan penuh warna, tangan ini terasa hangat karena genggaman amalinda, hidup gue penuh senyuman, di saat apa pun gue tersenyum, mulai dari makan, di omelin, buang hajat BAB, dan masih banyak hal yang gue jalani dengan tersenyum.

Namun anehnya, di saat gue dan amalinda bahagia dengan lukisan senyuman yang terpampang sepanjang hari, gue melihat sisi gelap dalam diri petrus dan hayati, entah apa yang terjadi gue hanya berfikir, apakah petrus sudah menyatakan perasaannya terhadap hayati. dan pertanyaan itu termengiang-ngiang dalam benak gue, gue hanya takut apakah cinta bisa menjadi akhir sebuah persahabata, namun gue melihat cinta membuat persahabatan semakin erat seperti yang gue rasakan dengan amalinda.

1 tahun berlalu, dan 1 tahun sudah hidup gue penuh warna, lalu sekarang gue harus mempersiapkan diri untuk ujian karena kini gue sudah menjadi bagian dari kaka sulung di sekolah, kalau loe ga faham, maksut kata-kata gue itu sudah kelas 6 SD.

Hari-hari menuju ujian tetap manis dan indah seperti biasa, ya, di karena amalinda yang perhatian dan tak pernah letih mengajarkan gue ilmu. Jadi anak-anak itu rasanya enak, ga ada beban, ga ada yang perlu di pikir panjang, semua di jalani aja, dan kekasih itu ibarat teman, sahabat, keluarga dan tuhan yang selalu ada, memahami, mengerti apa yang baik dan apa yang kita inginkan.

Namun, yang namanya warna, ga selamanya bisa permanen, dan kini warna gue pudar. Semua berawal di tempat yang sama, di bawah pohon beringin besar tua di depa sekolah, biasanya gue tersenyum di sana, dan biasanya pohon itu melindungi gue dari panas, tapi sayangnya sekarang haris lebih panas, di tambah lagi kata-kata amalinda yang membuat hati gue rapuh seperti pohon beringin tua ini.

·         “dick, kayanya kita ga akan bisa sama-sama lagi”
·         “apa? Maksut mu apa sih? Kita pasti akan bersama kan? Petrus, hayati, kamu dan aku akan tetap bersama selamanya”
·         “ga, ga selamanya kebahagian itu bisa di rasakan dick, dan satu hal yang harus kita sadari, kita masih terlalu kecil untuk mengenal cinta sejati, juga mengenal arti kebahagiaan”
·         “lantas, kebahagian yang kita rasakan saat ini?”
·         “kamu ga akan mengerti dick, banyak hal yang belum kamu fahami dari kami bertiga”
·         “maksutnya apa sih? Sumpah deh aku ga faham?”
·         “setelah kelulusan aku akan pergi ke banjarmasin”
·         “buat apa? Kalau mau liburan yaa semoga kamu bahagia dehh”
·         “aku akan menetap di sana, dan mungkin selamanya kita akan berpisah”
·         “kenapa?”
·         “karena papah ku harus mengurus prusahaanya di sana, dan kami sekeluarga harus selalu bersama”
·         “jadi seperti itu yah” kata gue dengan wajah yang kusut dan kepala yang mulai menunduk
·         “kamu ga perlu sedih, karena aku akan tetap sayang sama kamu”
·         “uuummmhhh”
·         “aku selalu bila kan sama kamu, ketika kamu sendiri tampat teman, jadikan hobby sebagai penangkal kesedihan mu, sekarang kamu punya hobby melukis, lukislah ketik kamu sedih, lukislah sesuatu yang indah, sesuatu yang mampu mewarnai hati kamu lagi, aku yakin ko kamu bisa dick, aku juga yakin akan ada yang menemanimu nanti”
·         “aku ingin kamu selalu menemani ku”
·         “tapi ga akan mungkin itu terjadi, intinya kamu harus terus bangkit ketika kamu jatuh, ingat kata-kata ku”
·         “baiklah” kata ku sambil melontarkan senyuman yang sebenarnya palsu


Semenjak gue mengetahui hal itu, kini gue mencoba untuk membuat sebuah kenangan terhadap amalinda, gue pun mencoba melukis wajah amalinda untuk kedua kalinya, hampir setiap malam gue menggambar di atas sebuah kertas karton yang gue potong seukuran A4. Seteah lukisan itu selesai dalam kurun waktu satu minggu, gue pun membingkainya dan membungkusnya dalam sebuah kota yang gue balut dengan kertas kado.

Dua minggu berlalu setelah gue menyelesaikan lukisan gue, akhirnya waktu perpisahan tiba, dan hari ini juga akan menjadi penentuan kelulusan, sebelum acara di mulai gue mengajak amalinda ke tempat pertama kali gue mengenalnya, di tempat itu kami menghabiskan waktu yang tersisa hanya berdua. Tak lupa juga gue memberikan kenangan-kenangan yang gue buat selama dua minggu ini. Amalinda sangat senang dan bahagia sampai ingin menangis ketika melihat wajah gue, amalinda hanya bisa berkata “kamu akan tetap jadi cowo paporit ku walau kita ga bisa ketemu lagi, tapi yakin deh, aku selalu ada setiap kali kamu melukis”.

Tak lama setelah itu acara pun di mulai dan keputusan dari disan pendidikan, semua siswa di sekolah kami lulus, namun setelah bersorak gembira waktu untuk melambaikan tangan ke hadapan sebuah mobil yang akan meluncur menuju banjarmasin, amalinda pergi dan kini gue hidup tampa cinta, merah menjadi hitam, dan biru menjadi putih. Hiup gue seperti gambar poto di rea 70’an.

Namun sementara gue merana, hayati dan petrus........


·         “ini sudah ke tiga kalinya aku utarakan perasaan ku hayati”
·         “jawaban ku akan tetap sama ko”
·         “aku tahu itu, tapi setidaknya aku sudah mengutarakan isi hati ini walau 3 kali ini juga kau bilang tidak”
·         “maaf petrus, kita berbeda kepercayaan, dan aku sedang menunggu seseorang, jadi tak akan ada harapan untuk kamu”
·         “ga papa ko, aku tahu dan mengerti. Tapi aku hanya bilang, aku akan pergi ke pulau jawa untuk menuntut ilmu, dan jiakalau memang kita bisa sama-sama lagi kaya dulu, aku ingin bisa melihat senyuman mu”
·         “semoga senyuman itu bisa terlukis di bibir ku”
·         “baiklah kalau begitu, sampai jumpa”


tak lama setelah gue mengantarkan kepergian amalinda, gue pun langsung mendatangi petrus dan hayati, namun entah kenapa wajah petrus berbeda seperti bisanya. Yang tertulis di wajahnya adalah kepasrahan, kekecewaan, kesedihan, dan amarah yang besar, semua bercampur menjadi satu. Dan hal yang membuat gue terkejut adalah bisikan petrus yang tak seperti biasanya “selamat untuk mu, dan ku harap kau bisa menjaga hayati untuk ku”.

Mendengar kata-kata petrus membuat perasaan takut dan khawatir gue tumbuh. Gue semakin bingung apa yang terjadi dengan kebahagiaan yang telah gue dapatkan selama 4 tahun ini. Apakah ini yang di sebut dengan kutukan? Atau inikah bukti kalau cinta itu seperti racun yang di teteskan di dalam madu, lalu kebahagiaan apa yang harus ku miliki, hati ini berasa pedih, sakit, seakan-akan semua teman dan sahabat gue menusuk hati gue dengan besi panas yang mendidih.


·         “dicky, ayo kita pulang?” ajak hayati
·         “kenapa?”
·         “kenapa apa dicky? Bukankah seperti biasanya kita pulsa bersama, walau sekarang hanya berdua”
·         “aku hanya merasa ada yang aneh akhir-akhir ini”
·         “mungkin karena kesedihan mu setelah kepergian amalinda, lama-lama kamu pasti akan bahagia lagi”
·         “bahagia?”
·         “yaa, kamu akan bahagia lagi”
·         “setelah bahagia, aku akan terluka lagi?”
·         “tapi setelah itu kamu akan bahagia lagi, percayalah”
·         “uuummmmhhh” kata gue agak sedikit pusing


Setelah kelulusan gue pun mulai kesepian, hanya ada hayati yang tersisa. Sahabat kecil lebih memilih untuk menjari kesenangannya masih-masing, maka kini tinggal gue sendiri bersama hayati.

1 bulan berlalu, gue mendapat kabar kalau petrus meninggal dunia karena kecelakaan, katanya semenjak kelulusan petrus menjadi anak yang bandel dan nakal, bahkan dia ikut dunia malam dan balapan liar, hidupnya tak teratur dan seperti orang gilla, pagi dan pulang subuh, entah apa yang terjadi gue ga mengerti dengan sikapnya saat ini, tapi yang jelas, petrus bukanlah anak nakal, dia hanya kehilangan warna dalam hidupnya.

Di hari terakir petrus, gue mengajak hayati untuk melihat jasat terakhir petrus, ingin menangis tapi gue malu, tak ingin menangis rasanya hal itu membuat gue semakin pedih, kemaren amalinda, kini petrus. Gue pun melihat hayati dan berharap warna gue tak hilang untuk ke tiga kalinya.

Setelah pemakaman petrus, gue dan hayati jalan-jalan ke sekolah lama gue. Gue dan hayati berhenti di sebuah pohon beringin besar tempat gue dan amalinda berbagi cerita, namun sayangnya beringin itu hanya tersisa paruhan batang dan akarnya, entah siapa yang menebang kenangan itu gue tak tahu, namun gue sepontan menangs di hadapan hayati dan berkata.

“aku kehilangan warna ku untuk ke-dua kalinya, dan aku tak ingin kehilangan warna ku lagi untuk ke-tiga kalinya, ku mohon berjanjilah untuk tetap di dekat ku hayati, aku tak punya siapa-siapa untuk berbagi, tak punya siapa-siapa untuk tersenyum, aku hanya bisa melukis dan menyendiri, namun senyuman ku tak bisa ku temukan dengan permanen, aku mohon, tetap lah................” gue berkata dengan tersendu-sendu tak bisa menahan sakit yang gue rasakan selama ini

·         “tenanglah, dari dulu aku selalu di dekat mu ko”
·         “maksut mu?”
·         “aku adalah orang yang dari kelas satu melihat kesedihan mu”
·         “kelas satu?”
·         “yaa, dan aku yang merayakan hari valentine bersama mu walau tak kita rayakan dengan nyata”
·         “jadi kamu?”
·         “SNH, SITI NUR HAYATI, itu aku”
·         “bagaimana bisa?”
·         “tujh mein rab dikhta hai, aku melihat tuhan dalam diri mu maka aku mencintai mu”
·         “lantas petrus?”
·         “aku tak pernah menerima cintanya karena kamu”
·         “kenapa?”
·         “karena tujh mein rab dikhta hai”
·         “kamu melihat tuhan dalam diri ku maka kamu mencitai ku?”
·         “ya, walau kamu tak bisa melihat ku tapi aku tahu, tuhan itu maha tahu dan kamu pasti akan tahu cepat atau lambat”
·         “jiakalau aku mencintai mu apakah amalinda akan membenci ku?”
·         “tidak, karena amalinda meminta ku untuk terus bersama mu”
·         “apakah cinta mu hanya karena permintaan amalinda?”
·         “sudah ku bilang, karena tujh mein rab dikhta hai”
·         “aku hanya minta satu hal dari mu, tolong warnai hari ku seperti dulu, aku bingung kebahagiaan apa yang harus ku miliki tapi, aku ingin tersenyum”
·         “kalau begitu ayo, tersenyumlah bersama ku, dan yakinlah tuhan yang melindungi kita?”
·         “aku yakin tuhan melindungi kita”
·         “tujh mein rab dikhta hai?”
·         “ya... tujh mein rab dikhta hai”
·         “dan kamu akan bahgia dengan warna ku, ya  kan?”
·         “jikalau itu membuat ku bahagia kenapa tidak” kata gue sambil memegang tangan hayati.

Kini hari gue mulai berwarna lagi, dan menjelang pendaftaran siswa baru untuk tingkat SMP, gue dan hayati memutuskan untuk satu sekolah di tempat yang sama. Dan kini gue mencintai hayati, satu hal yang gue pelajari bersama hayati yang muslimah, yakinlah pada cinta, dan ketika warna itu memudar, loe cukup mewarnainya kembali. jangan lupa untuk yakin pada keputusan tuhan dan jangan pernah biarkan elo bersedih, teruslah bangkit dan loe akan temukan cinta sejati elo.
Tujh mein rab dikhta hai, aku melihat tuhan dalam diri mu, maka aku mencintai mu.

Catatan : cerita ini bersumber dari realita seseorang yang sudah di dramatisirkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar